Senja di Ujung Mawar

Source by Pinterest 


"Tiba - tiba sekali ya, Mawar"

 Mawar terheran dengan perkataan Laksa yang secara tiba-tiba itu 

"Apa?"

"Tiba-tiba sekali ada perjalanan baru muncul disaat kamu sedang bimbang ingin memilih yang mana. eh, kamu malah terjerumus jalan yang kau tidak duga sama sekali"

Laksa mulai menyalakan rokok kelimanya sore ini, membuang asapnya di udara diantara fana merah jambu pada langit cafe tepi jalan.

Mawar tersenyum tipis, mengambil tarikan nafas yang dalam sembari melukis langit sore pada kala itu. 

"Sebaik - baiknya manusia berencana atas perjalanannya, takdir dan Tuhanlah yang menentukan perjalanan mana yang akan manusia tempuh" 

"Kau suka dengan apa yang takdir pilihkan?" tanya Laksa sembari membuka buku yang ia bawa. Hari ini Laksa sedang mempelajari tentang kepribadian pemimpin.

"Suka atau tidak apa pentingnya sekarang, Laksa. Entah baik atau tidak perjalanan ini untukku, bagus atau buruknya perjalanan ini untukku, saat ini sudah tidak relevan untuk dipertanyakan. Karena.. sekali lagi, yang memilih perjalanan ini untukku bukanlah aku, tapi Takdir dan Tuhan. Do'akan saja aku tidak mengecewakan mereka dalam perjalanan ini"

Mawar mengayunkan kuasnya dengan gemulai, membuat goresan demi goresan tertera pada kanvas polos tersebut. Entah apa yang ia ingin lukis, ia hanya butuh ketenangan. 

"Jika takdir memilihmu untuk melakukan perjalanan ini, mengapa takdir memilihkan orang-orang yang tidak ingin melakukan perjalanan denganmu? jangankan untuk berjalan, membersamaimu saja enggan". 

Lagi-lagi pertanyaan Laksa membuat Mawar tersenyum dan tergelitik. Seperti biasa, ada benarnya namun tidak sepenuhnya benar.

"Haha, Laksa, dunia dan takdir diciptakan tidak hanya untuk memenuhi keinginanku atau keinginan mereka saja. Takdir ini diciptakan untuk kita yang mau belajar. Anggap saja, mereka harus belajar mendengarkanku dan aku harus belajar mendengarkan mereka. Aku harus belajar merendahkan bahkan membuang egoku untuk bersama mereka, dan mereka harus belajar merendahkan bahkan membuang ego mereka untuk berjalan bersamaku. Dan anggap saja, ini adalah cara takdir untuk mendewasakan kami".

Laksa menggelengkan kepalanya sambil bertepuk tangan tanda bangganya pada rekan seperjuangannya ini 

"Bukan main, setelah perjalanan ini, kamu malah nampak seperti motivator acara ya, Mawar. Langsung bijak Hahahaha".

"Kamu terlihat seperti orang kehilangan arah yang ada di acara tersebut, hahaha".

Gelak tawa yang tak henti dari Mawar dan tingkahnya yang mencoret pipi Laksa dengan cat merah terang yang ia gunakan menandakan bahwa ia lukisannya telah selesai dilukis. Dan tentunya Laksa membalasnya dengan mencoret Mawar dengan tinta hitam pada pallet yang digunakan Mawar kala itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pojok Kopi

Balada Setangkai Mawar

Gadis Malang