Pojok Kopi

source : Banyumas24jam


 "Pie, sudah kamu putuskan?" tanya Laksa, rekan sebaya gadis malang itu sambil meminum kopi hitam yang dipesannya.

"Prolog saja belum, kok kamu sudah masuk ke pertanyaan intinya. Gak paham aku" ujar gadis malang itu yang selalu sibuk dengan laptopnya. entah apa yang ia sibukkan.

"Perjalananmu. Sudah kamu putuskan, perjalanan mana yang ingin kamu lalui?" 

Laksa menutup laptop yang sedari tadi menarik fokus dari gadis malang itu, lalu menatap lekat pada gadis malang itu. berharap mendapat jawaban yang ia ingin dengar dari rekan seperjuangannya yang sekarang sama-sama sudah pada titik terakhir. Hanya saja, alasan terbesar mengapa Laksa berada pada titik ini karena ia tidak bisa mengerjakan dua hal sekaligus. Tentunya sama tapi tak serupa dengan gadis malang ini. 

"Kalau pertanyaanmu begitu, selayaknya mahasiswa normal pada umumnya, tentunya sudah jelas, kan? aku menyelesaikan apa yang seharusnya aku akhiri. Persetan dengan perjalanan kedua. Sudahlah sakit, mati pula. Tidak ada perdebatan di dalamnya" 

Gadis malang itu meminum kopi susu yang sebenarnya tidak ada rasa susu di dalamnya, karena gadis malang itu meminta tambahan 2-4 shot kedalam kopi tersebut. 

"Tapi, kalau kamu menanyakan pada mahasiswa abnormal seperti kita, sekarang pertanyaannya ialah, apakah pertanyaan itu relevan untuk kita? tidak perlu kamu jawab, coba tanyakan hal itu pada dirimu terlebih dahulu, Sa. Setelah kamu dapat jawabannya yang konkrit, beritahu aku. Siapa tahu aku mendapatkan ilham dari jawabanmu". 

Gadis malang itu menyingkirkan tangan Laksa dari laptopnya dan membuka kembali layar laptop yang ia tutup, sehingga menghalangi pandangan Laksa dengan gadis malang itu. 

"Hal koyok ngeneh iki pasti ndak akan sepenuhnya konkrit jawabannya, Mawar. Ya, tapi.. setidaknya, aku kan lugas dan ora ngelomboni awak e dewek ngonoh lho". 

Mawar tertegun dengan perkataan Laksa yang merasa itu tidak benar dan tidak juga salah.

"Maksudnya kamu, aku ga jujur sama diriku sendiri? aku ga tegas untuk kepentingan diri sendiri, gitu?"

"Yo ndak begitu. Maksudku kan aku lugas bilang sama kamu, kalo aku bisa, aku bakalan coba seperti kamu, Mawar. Melakukan tiga perjalanan, berjalan bersama beriringan. melakukan tiga hal untuk berusaha memenuhi bekal yang terbaik buat ketiganya." 

"Yo tapi kan, ada kalanya ketika kita memang harus memilih perjalanan mana yang harus kita lalui supaya kita tidak merepotkan atau menyakiti orang lain ketika kita dalam perjalanan". 

Laksa menjeda perkataannya dengan membakar satu rokok dan menghirupnya dengan dalam, setelah itu menghembuskan asapnya ke langit-langit Pojok Kopi, mengakibatkan asapnya mengepul di udara.

"Ya.. jane perjalananku mung ada 2 tok sih. Tapi, ya itu kan karena aku tau, nek aku gabisa melakukan perjalanan lebih dari dua. Dan aku jujur karo awakku dewek, Mawar. Ora sok kuat, sok bisa menjalani perjalanan tambahan nang arep e wong lia. Itu kan bukti, nek aku ga akan menyakiti orang lain atas perjalanan yang ingin aku tempuh sendiri, ya kan? ya, intine begitu wis" ujar Laksa sambil menghisap rokoknya lagi dengan dalam, katanya bisa mengurangi beban pikirannya.

Mawar menatap Laksa dan memberikan senyum tipis di wajahnya.  

"iya, Sa. Kamu benar, soal pilhan dan beberapa kalimat yang kamu sebutkan tadi. Apa aku terlalu naif ya, Sa? Berusaha menggabungkan tiga perjalanan yang aku tempuh secara bersama. padahal jalannya berbeda" 

Laksa menghela nafas lalu menghentikan aktifitas merokoknya itu dengan meminum secangkir kopi yang ada di pinggir asbaknya.

"Mawar, kamu hebat. Belum pernah aku bertemu dengan gadis yang bisa melakukan ini itu sebaik dirimu. Kalaupun betul kamu naif dan kamu memilih untuk menggabungkan tiga perjalananmu itu secara bersamaan, aku adalah orang yang pertama mengatakan bahwa seorang Mawar Jiyanti Cahyaningrum, rekan seperjuanganku, bukanlah gadis yang malang dan pasti akan menyelesaikan semuanya dengan tuntas sampai tujuan". 

"Mawar, dengarkan aku. Setidaknya, ketika kamu mengambil keputusan untuk menempuh tiga perjalanan itu, belum pernah sekalipun aku mendengar ada orang yang tersiksa atas pilihan yang kamu ambil. Serapih itu cara mainmu, Mawar. Dan tentu kamu banyak sekali rencana supaya tiga perjalanan tersebut tidak ada yang berkorban". 

"Ya.. ada sih yang berkorban, dirimu sendiri". 

Laksa sekali lagi meneguk kopi hitam itu hingga tersisa ampasnya saja yang berada di dalam gelas. dan mulai merapihkan buku-buku tentang metodologi penelitiannya untuk senjata pertempuran akhir kami.

"Dasar, Aneh". Mawar tersenyum dan ikut membereskan laptopnya dan buku bacaan yang mawar sedang baca, kali ini mawar sedang membaca buku-bukunya Pramoedya Ananta Toer yang sedang wajib dibaca katanya untuk para aktivis.

"Seaneh apapun aku, tetap ada yang lebih aneh. Yaitu kamu, Gadis Aneh" 

Laksa tentunya langsung tertawa puas berlari menuju parkiran karena takut dipukul oleh rekan seperjuangannya itu. Dan tentunya juga, Mawar berlari mengejar laki Laki pribumi (karena Laksa asli dari sekitar daerah tersebut, sebut saja ia pribumi) itu. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Balada Setangkai Mawar

Gadis Malang