Gadis Malang
"gadis seperti dirimu, tentu saja punya masa depan cerah. tidak terlintas dipikiran kami, bahwa gadis sepertimu akan berakhir menjadi yang terakhir di antara yang lainnya" begitu kata mereka.
"ku harap juga begitu. Doakan saja semoga aku tidak menyesal karena mengambil keputusan ini" ucap gadis itu dengan senyum yang sangat lebar dan bahagia.
Setelah mereka pergi, ia bersandar pada tembok kampus yang merekam semua jejak perjalanannya.
"Perjalanan macam apa ini? mengorbankan diri, menusuk duri, lalu berada di depan membentengi diri untuk yang orang lain, untuk apa?. Meninggalkan sejenak perjalanan yang seharusnya kamu tempuh bahkan sudah selesai dengan itu. Namun, kamu memilih meninggalkannya sejenak demi perjalanan yang bahkan belum kamu mulai saja sudah terluka. Ibarat kata, kamu perang saja belum, tapi mati sudah. Gadis bodoh".
"Melakukan hal senekat ini di negeri orang, merugikan diri sendiri dan sanak saudara. Memang, ada yang lebih malang nasibnya dari kamu. Dan tentunya meskipun kamu terluka sedalam ini, kamu patut mensyukuri bahwa perjalananmu tidak sesunyi yang lain. Bahkan ternyata ramai seperti pasar".
"Ya, tapi tetap saja. Seberuntung apapun kamu, sebersyukur apapun dirimu, kau tetap saja gadis yang malang".
Pelan - pelan gadis itu duduk sambil membenamkan wajahnya di antara dua tangannya yang sudah lemas sambil menggenggam secarik kertas. Suasana Kampus yang sudah sunyi hanya ada angin yang bergemuruhpun ternyata tidak sesunyi yang diharapkan.
Kalimat demi kalimat tadi berteriak dan berlarian dalam pikiran gadis itu. Membiarkan kalimat-kalimat tadi bertengkar dengan hati nuraninya yang sebenarnya sudah lama mati.
Keren kamu bukan gadis kecil, tapi gadis besar
BalasHapus